JAKARTA (voa-islam.com) – Nasib kaum
Pribumi dan Betawi akan habis dan tersingkir dari DKI Jakarta. Nasib kaum
Pribumi dan Betawi mirip yang dialami kaum Melayu di Singapura, yang dihabisi
oleh kebijakan pemerintah Singapura yang didominasi mayorita Cina. Melayu di
Singapura tergerus dan punah dari negara Singapura. Hanya sebagian kecil yang
masih bertahan di negera 'Singa' itu.
Sekarang di DKI Jakarta, Jokowi
membuat kebijakan yang menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yang dipicu
oleh naiknya nilai jual objek pajak (NJOP), hingga mencapai 100 persen lebih,
dan bakal membuat warga DKI Jakarta, khususnya kaum Pribumi dan Betawi, akan
tersingkir dan habis dari Jakarta.
Tentu, akibat kebijakan ini,
rata-rata kepemilikan tanah dan bangunan kaum Pribumi dan Betawai yang tidak
lagi mampu membayar, akan pindah tangan, dan pasti dimiliki kalangan
konglomerat Cina, yang sekarang ini menguasai jaringan pembangunan properti.
Menurut Salamuddin Daeng, pengamat
ekonomi dari Indonesia for Global Justice (IGJ), Kemendagri harus menegur
Pemprov DKI Jakarta, karena menetapkan PBB, secara semena-mena. “Akibat
kenaikan PBB, sebagian besar warga Jakarta bakal menderita. Bahkan, mereka
dalam jangka waktu tertentu bisa habis tersingkir. Sama ketika etnis Melayu
tersingkir di Singapura. Ini harus diwaspadai pemerintah pusat”, ungkap
Salamuddin Daerng, Sabtu, 3/5/2014.
Salamuddin menambahkan mahalnya NJOP
akan meningkatkan beban warga Jakarta beban warga Jakarta. Apalagi tarif dasar
listrik (TDL) untuk industri menengah dan besar dinaikkna 1 Mei ini. Harga BBM
pun akan dinaikkan pula tahun ini.
Kebijakan ini hanya berpotensi
meningkatkan jumlah orang miskin di DKI Jakarta. Tetapi, juga akan mendorong
sebagian besar warga Jakarta menjual tanah-tanah mereka, dan akhirnyaakan jatuh
ke tangann para pengusaha properti, yang sebagian besar konglomerat Cina. Ini
sama dengna penghapusan kaum Pribumi dan warga Betawi dari DKI Jakarta yang
sudah tidak sanggup lagi membayar NJOP.
Kenaikan NJOP adalah sebuah strategi
menyingkirkan dan pengusiran kaum Pribumi dan warga Betawi, serta orang-orang
miskin dari DKI Jakarta.Nasib kaum Pribumi dan warga Betawi akan persis
nasibnya seperti suku Aborigin di Australia yang tersingkir dari wilayah
kehidupannya, dan di mana orang-orang Melayu juga telah tersingkir dari
Singapura”, tambah Daeng.
Daeng menilai kebijakan kenaikan
NJOP itu, merupakan upaya sistematis Jokowi dan Ahok yang tujuannya untuk
mengalihkan properti rakyat ke tangan segilintir konglomerat Cina, atau
kelompok yang ingin menguasai perekonomian ibukota negara ini.
Sungguh menaikkan NJOP sebesar 100
persen itu, sebagai langkah yang terang-terangan pengusiran dan penghancuran
kaum pribumi. Bagaimana kalau mendjadi presiden Jokowi? Pasti Indonesia akan
diserahkan kepada 'Asing dan A Seng'. (afgh/pk/voa-islam.com)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar