Penerapan system baru Jaminan kesehatan bagi masyarakat
Jakarta yang kita kenal dengan sebutan Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang digagas
Jokowi terbukti gagal total. Ini disebabkan oleh ketidaksiapan jumlah rumah
sakit yang tidak sebanding dengan jumlah warga miskin di Jakarta yang
berbondong-bondong menggunakan fasilitas KJS yang diberikan Jokowi sebagai
bukti janji-janji kampanye Jokowi saat Pilkada DKI kemarin.
Realisasi KJS di lapangan menemui banyak kendala, mulai dari
kurangnya tenaga, peralatan & fasilitas medis termasuk jumlah ruangan di
rumah sakit yang sangat tidak memadai menjadi masalah baru mengiringi
diluncurkannya KJS kepada warga Jakarta.
Walaupun Jokowi telah merombak beberapa Rumah Sakit dan
menetapkan penambahan 300-an ruang kelas dua untuk dijadikan ruang kelas tiga
untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pasien KJS.
Berita miringpun seketika mengusik telinga kita, dimana
kasus bayi kembar Dera yang kita tahu mendapat penolakan dari 8 Rumah Sakit
karena alasan penuh, dan beberapa kasus lain yang juga mendapat penolakan dari
Rumah Sakit karena pihak Rumah Sakit beralasan bahwa Pemprov DKI masih memiliki
hutang ratusan milliar yang belum terbayarkan kepada pihak kesehatan.
Meninjau dari niat baik dan system yang ditawarkan Jokowi
dengan program KJS nya, memang sekilas terlihat begitu bagus & merakyat.
Tapi semua itu menjadi sia-sia dan menimbulkan masalah-masalah baru yang justru
menyulitkan rakyat, karena tidak sesuai dengan jumlah fasilitas kesehatan yang
tidak sebanding dengan jumlah warga DKI yang berkisar 9 jutaan jiwa itu.
Peningkatan pasien 100% lebih, dari sebelum dikeluarkannya
KJS, jelas membuat Rumah Sakit kelabakan, mengingat selama ini mereka bekerja
dengan hanya melayani kalangan menengah keatas, tiba-tiba harus berurusan dengan
banyaknya pasien dari kalangan miskin dan melarat, dan yang pasti penampilan
mereka terlihat kumal, lusuh dan kumuh, tapi mereka mendapat fasilitas istimewa
dari Gubernurnya dengan kartu sakti KJS nya yang mana dengan kartu itu, biaya
kesehatannya dijamin oleh pemda.
Sebagai seorang Jokowi yang telah pernah menerapkan system
yang sama waktu menjabat walikota di Solo dulu, sudah seharusnya Jokowi bisa
memprediksikan kejadian ini & menyiapkan Infrastrukturnya terlebih dahulu,
mulai dari penambahan jumlah puskesmas, Rumah Sakit, fasilitas & tenaga
medisnya dalam beberapa tahun. Agar kasus pasien yang meninggal karena ditolak
Rumah Sakit yang penuh tidak terjadi.
Jokowi bisa saja menyiapkan infrastruktus kesehatan hingga
beberapa tahun kedepan. Mungkin itu akan jauh lebih baik. Apalagi selama ini
masyarakat memang tidak terbiasa masuk Rumah Sakit karena biaya yang mahal dan
sulitnya mengurus Gakin & Jamkesmas.
Akan lebih baik Jika KJS itu ditarik dan kembali ke sistem
lama, dimana pasien harus terlebih dahulu mengurus Gakin dan Jamkesda selama
beberapa hari sebelum masuk rumah sakit. Dengan cara ini, pasti tidak akan ada
antrian panjang di Rumah Sakit. Dengan cara ini, pemerintah terutama dinas
kesehatan tidak akan repot mengingat jumlah yang terbatas tanpa ada penambahan
personelnya.
Meninggalnya Ana Mudrika (14), pada Maret 2013 karena diduga
terlambat mendapat penanganan rumah sakit, mengindikasikan buruknya pengelolaan
(KJS). Kartu Jakarta Sehat (KJS), yang merupakan program unggulan Pemerintah
DKI Jakarta. Sejak diluncurkan oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, animo
masyarakat untuk memperoleh kartu itu tinggi.
Alhasil karena tanpa persiapan yg serius dari pemerintah
DKI, pihak rumah sakit kewalahan untuk menerima pasien yang menggunakan KJS.
Ketua Yayasan Perlindungan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), dr Marius
Wijaya mengatakan mekanisme penggunaan terutama untuk klaim rumah sakit tidak
jelas bahkan cenderung merugikan pihak rumah sakit.
Contohnya, Pemda DKI Jakarta menggelontorkan anggaran utk
KJS Rp 1, 2 triliun dan mengcover 4, 7 juta jiwa. Namun Dinas Kesehatan DKI
Jakarta, memberikan kebijakan jika tidak memiliki KJS maka dapat menggunakan
KTP atau Kartu Keluarga, dan dampaknya, pasien yang dicover KJS melebihi kouta
yang rasional dengan dana yang dipersiapkannya.
Padahal hal ini sudah diingatkan oleh berbagai pihak,
sayangnya pemerintah DKI tidak mengindahkannya, yang berakibat fatal. Ini bukti
kegagalan Kartu Jakarta Sehat. Tidak hanya itu, Dinkes Jakarta juga dianggap
tidak bertanggung jawab atas klaim yang menunggak. Marius mengaku banyak
mendapat keluhan dari pihak rumah sakit. Misalnya, klaim rumah sakit yang harus
dibayar Dinkes Rp 10 miliar, namun hanya diganti sesuka hati. Atau pihak Dinkes
mengatakan dirawat ICU, pemerintah hanya menanggung Rp 100 juta, jika lebih
pemerintah tidak menanggung. Sistem pembayaran yang aneh dan tidak masuk akal.
Dengan carut marutnya penggunaan KJS, tidak heran pihak
rumah sakit terkadang tidak sepenuhnya menerima pasien KJS, karena tidak ada
jaminan. Pihak Dinkes dan Gubernur DKI Jakarta kerap mengancam akan menjatuhkan
sanksi untuk rumah sakit.
Jika dibanding dengan daerah lain di Indonesia, penggunaan
kartu jaminan sehat sejenis KJS, Jakarta tertinggal. Melihat fakta yang ada
memang program JKS ini program asal2an yang tidak dipersiapkan secara teknis!!
CENDERUNG HANYA MEMAKAI ALASAN POLITIS. DAN NYAWA-NYAWA MELAYANG KARENA ambisi
politik dan pencitraan pemerintah daerah Jakarta! Sungguh menggenaskan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar