Benarkah pernyataan walikota Solo Jokowi dan
Wakilnya bahwa jumlah angka kemiskinan warga Solo 22 %?
Angka 22% atau 133.000 penduduk miskin Solo dari 560.000 jiwa adalah angka yang luar biasa besar. Menggambarkan kegagalan.
Namun Jokowi berkilah. Dia bilang jumlah penduduk miskin Solo itu meningkat karena penggunaan 25 parameter.
Pertama kita pakai data standar BPS yang berlaku untuk seluruh Indonesia. Berapa rakyat miskin Solo? 13% atau 73.000 jiwa dari 560.000.
Angka 13% itu lebih besar dibandingkan angka rata2 nasional yang 12%. artinya apa? Rakyat miskin Solo lebih tinggi daripada rata2 Indonesia.
Artinya, prosentase rakyat miskin Kota Solo lebih tinggi dibandingkan dengan daerah2 lain. Kecuali mungkin di pedalaman Maluku dan Papua.
Rakyat miskin kota Solo juga secara statistik dan prosentase lebih tinggi dibandingkan kota2 menengah dan kecil di Indonesia.
Dengan luas hanya 44 Km dan jumlah penduduk 560 ribu, Solo tidak termasuk kota besar di Indonesia.
Angka resmi pemkot Solo yang sebutkan 22% atau 133.000 warga miskin di Solo. Apa tujuannya?
Pertama, tujuannya pasti untuk mendapatkan angka yang lebih riil tentang jumlah warga miskin agar program2 yang disusun pemkot Solo bisa lebih tepat.
Tujuan kedua, agar pemkot Solo bisa mengajukan permohonan bantuan dana atau anggaran yang lebih besar dari Pusat.
Kita tahu jika ada program2 bantuan sosial atau pengentasan kemiskinan, daerah2 (kab/kota) akan berlomba2 naikan jumlah rakyat miskinnya.
Tentu maksudnya agar kabupaten/kota tersebut bisa mendapatkan porsi bantuan anggaran yang lebih besar dari kantor pusat. Solo juga demikian?
Jadi, setiap kabupaten/kota pasti punya data angka kemiskinan minimal 2 versi : BPS dan Pemkot/Pemkab.
Jadi, apa pun alasan Jokowi, baik versi BPS ataupun versi Pemkot Solo, jumlah orang miskin di Solo sangat tinggi prosentasenya.
Apa makna angka2 kemiskinan yang sangat tinggi di Solo itu.
Jika angka kemiskinan semakin meningkat atau tidak turun di suatu kota, itu artinya pemerintahnya gagal. Tidak becus.
Sebab tujuan utama pemerintah itu adalah meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Jokowi gagal lakukan itu di Solo.
Kenapa warga miskin di Solo tidak berkurang bahkan meningkat? Pertama tentu karena pertumbuhan ekonomi rendah.
Solo tidak pernah tumbuh di atas 6%. Rata2 hanya 5%. bandingkan dengan kota2 lain di Indonesia yang tumbuh di atas 6% per tahun.
Kedua, distribusi pendapatan tidak merata. Banyak yang makim kaya, tapi lebih banyak yang makin miskin. Banyak pengangguran.
Artinya Jokowi sebagai walikota gagal menciptakan atau menstimulus terciptanya lapangan kerja. Buktinya? Ya pertumbuhan ekonomi rendah tadi.
Mungkin saja Jokowi pupuler dan disukai rakyatnya. Tapi itu hanya terkait sikap dan citra. Bukan kinerja yang bisa diukur dengan angka2.
Apalagi tuntutan rakyat Solo mungkin tidak seperti tuntutan warga2 kota lain apalagi kota terbesar seperti Jakarta yang sangat kritis.
Demikian juga dengan program2 populer jokowi seperti jaminan kesehatan. Sebenarnya program itu sudah dijalankan hampir di seluruh indonesia.
Ketidaktahuan warga Solo, seolah2 menjadikan program itu sebagai sesuatu yang luar biasa. Warga sudah respek tanpa mencari perbandingan.
Budaya Solo dan karakter masyarakatnya yang nrimo mungkin jadi dasar apresiasi warga kepada Jokowi yang sebenarnya kinerjanya biasa2 saja.
Apalagi walikota Solo sebelumnya 180 derajat berbeda dengan Jokowi. Tidak merakyat dan korupsi. Jokowi yang biasa2 saja kelihatan lebih bernilai.
Kesimpulannya, secara faktual Jokowi tidaklah luar biasa. Dia memang merakyat. Tapi gagal angkat kesejahteraan rakyat Solo yang hanya sedikit itu.
Solo yang luasnya hanya 44 Km2. Kota kecil. Wajar saja jika Jokowi bisa keliling kota tersebut jumpai rakyat setiap hari. Penduduknya juga sedikit.
Namun, kota yang kecil dan penduduk yang sedikit itu pun gagal diangkat kesejahteraanya oleh Jokowi. Padahal itu kewajiban utamanya.
Bagaimana kita bisa percayakan Jakarta yang berpuluh kali lipat lebih besar daripada Solo kepada Jokowi? Apakah rakyat Jakarta mau?
Angka 22% atau 133.000 penduduk miskin Solo dari 560.000 jiwa adalah angka yang luar biasa besar. Menggambarkan kegagalan.
Namun Jokowi berkilah. Dia bilang jumlah penduduk miskin Solo itu meningkat karena penggunaan 25 parameter.
Pertama kita pakai data standar BPS yang berlaku untuk seluruh Indonesia. Berapa rakyat miskin Solo? 13% atau 73.000 jiwa dari 560.000.
Angka 13% itu lebih besar dibandingkan angka rata2 nasional yang 12%. artinya apa? Rakyat miskin Solo lebih tinggi daripada rata2 Indonesia.
Artinya, prosentase rakyat miskin Kota Solo lebih tinggi dibandingkan dengan daerah2 lain. Kecuali mungkin di pedalaman Maluku dan Papua.
Rakyat miskin kota Solo juga secara statistik dan prosentase lebih tinggi dibandingkan kota2 menengah dan kecil di Indonesia.
Dengan luas hanya 44 Km dan jumlah penduduk 560 ribu, Solo tidak termasuk kota besar di Indonesia.
Angka resmi pemkot Solo yang sebutkan 22% atau 133.000 warga miskin di Solo. Apa tujuannya?
Pertama, tujuannya pasti untuk mendapatkan angka yang lebih riil tentang jumlah warga miskin agar program2 yang disusun pemkot Solo bisa lebih tepat.
Tujuan kedua, agar pemkot Solo bisa mengajukan permohonan bantuan dana atau anggaran yang lebih besar dari Pusat.
Kita tahu jika ada program2 bantuan sosial atau pengentasan kemiskinan, daerah2 (kab/kota) akan berlomba2 naikan jumlah rakyat miskinnya.
Tentu maksudnya agar kabupaten/kota tersebut bisa mendapatkan porsi bantuan anggaran yang lebih besar dari kantor pusat. Solo juga demikian?
Jadi, setiap kabupaten/kota pasti punya data angka kemiskinan minimal 2 versi : BPS dan Pemkot/Pemkab.
Jadi, apa pun alasan Jokowi, baik versi BPS ataupun versi Pemkot Solo, jumlah orang miskin di Solo sangat tinggi prosentasenya.
Apa makna angka2 kemiskinan yang sangat tinggi di Solo itu.
Jika angka kemiskinan semakin meningkat atau tidak turun di suatu kota, itu artinya pemerintahnya gagal. Tidak becus.
Sebab tujuan utama pemerintah itu adalah meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Jokowi gagal lakukan itu di Solo.
Kenapa warga miskin di Solo tidak berkurang bahkan meningkat? Pertama tentu karena pertumbuhan ekonomi rendah.
Solo tidak pernah tumbuh di atas 6%. Rata2 hanya 5%. bandingkan dengan kota2 lain di Indonesia yang tumbuh di atas 6% per tahun.
Kedua, distribusi pendapatan tidak merata. Banyak yang makim kaya, tapi lebih banyak yang makin miskin. Banyak pengangguran.
Artinya Jokowi sebagai walikota gagal menciptakan atau menstimulus terciptanya lapangan kerja. Buktinya? Ya pertumbuhan ekonomi rendah tadi.
Mungkin saja Jokowi pupuler dan disukai rakyatnya. Tapi itu hanya terkait sikap dan citra. Bukan kinerja yang bisa diukur dengan angka2.
Apalagi tuntutan rakyat Solo mungkin tidak seperti tuntutan warga2 kota lain apalagi kota terbesar seperti Jakarta yang sangat kritis.
Demikian juga dengan program2 populer jokowi seperti jaminan kesehatan. Sebenarnya program itu sudah dijalankan hampir di seluruh indonesia.
Ketidaktahuan warga Solo, seolah2 menjadikan program itu sebagai sesuatu yang luar biasa. Warga sudah respek tanpa mencari perbandingan.
Budaya Solo dan karakter masyarakatnya yang nrimo mungkin jadi dasar apresiasi warga kepada Jokowi yang sebenarnya kinerjanya biasa2 saja.
Apalagi walikota Solo sebelumnya 180 derajat berbeda dengan Jokowi. Tidak merakyat dan korupsi. Jokowi yang biasa2 saja kelihatan lebih bernilai.
Kesimpulannya, secara faktual Jokowi tidaklah luar biasa. Dia memang merakyat. Tapi gagal angkat kesejahteraan rakyat Solo yang hanya sedikit itu.
Solo yang luasnya hanya 44 Km2. Kota kecil. Wajar saja jika Jokowi bisa keliling kota tersebut jumpai rakyat setiap hari. Penduduknya juga sedikit.
Namun, kota yang kecil dan penduduk yang sedikit itu pun gagal diangkat kesejahteraanya oleh Jokowi. Padahal itu kewajiban utamanya.
Bagaimana kita bisa percayakan Jakarta yang berpuluh kali lipat lebih besar daripada Solo kepada Jokowi? Apakah rakyat Jakarta mau?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar