TRIBUNNEWS.COM,
JAKARTA -
Gubernur DKI Jakarta Jokowi kembali dikritik karena dinilai tak merasa berdosa
mengingkari sumpah jabatannya di Jakarta dengan maju sebagai calon Presiden
dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Hal
ini diutarakan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Taufik Bahauddin,
saat mengkritisi konsep Bank Pertanian yang dicanangkan Jokowi dan PDIP. Selain
masalah ekonomi, Taufik juga mempertanyakan bagaimana konsep Jokowi mengenai
penegakan hukum di Indonesia seperti kasus korupsi.
"Bagaimana
prinsip soal korupsi? Soal terorisme kerah putih? Tidak jelas nilai-nilai soal
ini. Enteng-enteng saja tanpa rasa bersalah saat mengkhianati janjinya untuk
membangun Jakarta lima tahun sebagai Gubernur DKI Jakarta," cetus Taufik
saat dikonfirmasi, Rabu (30/4/2014).
Taufik
mengatakan kualitas berpikir seseorang akan terlihat dalam setiap tindakan yang
dilakukannya. Ia menuturkan hal itu juga berlaku untuk seorang Jokowi, mengenai
ucapan dan tindakannya yang tidak sinkron saat disumpah menjabat lima tahun
sebagai Gubernur DKI Jakarta.
"Membaca
kualitas berpikir itu terlihat dalam tindakan, perilaku dan keputusan yang
dibuatnya. Mudah dibaca kalau kita mengerti, itu ada ilmunya," ujarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar