JAKARTA (voa-islam.com) - Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (JK) berkomitmen
memberikan sebagian dana kampanyenya untuk korban peristiwa penyerangan di Gaza
oleh Israel yang memakan banyak korban beberapa waktu lalu.
"Insya Allah, setelah selesai
proses ini (pilpres) kami Insya Allah membantu. Kalau kami menang kami akan
buka kedutaan di Palestina agar bisa lebih mudah," kata JK di kediamannya,
Jalan Brawijaya Jakarta Selatan, Kamis (10/7/2014).
Dikatakan JK, komitmen ini adalah
bentuk keprihatinan dirinya terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi selama
bertahun-tahun di wilayah tersebut.
Namun, ia juga menegaskan bahwa
bantuan akan diberikan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang membutuhkan.
"Kita mengharapkan mereka
(Israel dan Palestina) bisa berdamai. Bukan hanya Palestina, Indonesia juga
banyak masalah," ujarnya.
Rilis Progress 98: Tragedi Gaza
Dicemari Isu Sumbangan Uang Haram Jokowi - JK
Setelah gagal meyakinkan publik
dengan klaim kemenangan sepihak oleh pasangan Jokowi - Jusuf Kalla, kini kedua
figur tersebut kembali memanfaatkan isu tragedi kemanusiaan yang terjadi di
Gaza Palestina guna mendulang simpati politik.
Lebih memprihatinkan, Jusuf Kalla
melontarkan pernyataan bahwa dana kampanye di tiga rekening (BRI, BCA dan
Mandiri) milik mereka, akan disalurkan untuk membantu warga Palestina. Sebuah
pendekatan pamer kepedulian atas nama kemanusiaan ala saudagar yang secara
teknis bakal terbentur oleh masalah hukum.
Sebagaimana diketahui, keberadaan
dana kampanye di tiga rekening bank milik Jokowi - Jusuf Kalla, berdasarkan
aturan yang berlaku masih dalam pengawasan ketat KPU dan belum dilakukan audit
- investigasi untuk dipertanggungjawabkan secara transparan. Atau tegasnya
berdasakan amanah UU, pihak KPU wajib membuktikan sumber aliran dana dimaksud
berasal sumbangan yang legal atau ilegal. Sehingga dipastikan aliran dana yang
dihimpun terbebas dari praktek pencucian uang serta modus kejahatan lainnya.
Di sisi lain, kepemilikan tiga
rekening dana kampanye atas nama Joko Widodo - Jusuf Kalla, sejak awal
diumumkan terbukti dengan sengaja telah mengabaikan ketentuan hukum yang
berlaku. Yakni terindikasi adanya dugaan praktek gratifikasi, lantaran saat ke
tiga rekening itu dibuat, posisi Joko Widodo masih berstatus sebagai Gubernur
DKI Jakarta. (baca UU Tipikor dan UU Pilpres No 42 tahun 2008)
Selanjutnya, Progres 98 sebagai
pihak yang melaporkan dugaan skandal gratifikasi terkait tiga rekening tersebut
ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tertanggal 30 Mei 2014, sampai sejauh ini
belum diputuskan resmi oleh KPK. Sebaliknya, munculnya berbagai pemberintaan di
media massa bahwa KPK telah menyatakan pembukaan tiga rekening dana kampanye
milik Jokowi - JK adalah sah dan terbebas dari praktek gratifikasi, merupakan
kesimpulan yang politis dan sangat menyesatkan.
Singkatnya, aliran dana yang masuk
ke tiga rekening milik Jokowi - JK, akan mengalami koreksi serius dari sisi
penegakkan hukum. Sebab belum lama ini terungkap bhawa lebih dari 70 persen
uang yang dihimpun di temukan berasal dari sumbangan ilegal dan tidak dapat
dipertanggungjawabkan secara transparan.
Berangkat dari ketidakjelasan
"halal atau haram" serta kepastian legalitas dana sumbangan kampanye
politik sebagaimana digambarkan di atas, membuat kita bertanya:
"Mengapa Jusuf Kalla dan Jokowi
dengan teganya telah melakukan kebohongan publik melalui pemanfaatan isu
tragedi Gaza dengan iming-iming akan menyalurkan bantuan dana politik yang
belum jelas diperoleh dari sumber yang legal dan halal..?"
Sungguh memalukan, demi kepentingan
mengais pencitraan di ruang publik, Jokowi dan Jusuf Kalla terpaksa menunjukan
perilaku politik dengan menghalalkan segala cara. Dan celakanya, perilaku tak
elok itu seolah menjadi watak bawaan yang kian dipertontonkan dengan sempurna
di hadapan rakyat banyak.
Kita setuju dan sangat sempati bila
Jokowi dan Jusuf Kalla menunjukan kepeduliannya dalam merespon tragedi
kemanusiaan yang terjadi di Gaza, Palestina. Namun semua itu mesti dilakukan
dengan tulus, jujur dan tidak bertujuan untuk mengais kepentingan politik yang
menyesatkan.
Menurut saya, pendekatan kebohongan
publik oleh Jokowi - Jusuf Kalla justru sesungguhnya secara hakiki telah ikut
mencemari kesucian perjuangan bangsa Palistina. Bahkan lebih ironi, perilaku
tersebut tidak bedanya dengan kejahatan agresor Isreal di Gaza yang sepenuhnya
dibangun atas dasar kebohongan dan kemunafikan !
salam
oleh Faizal Assegaf
Ketua Progres 98
Ketua Progres 98
Jakarta, 11 Juli 2014
Demikian rilis Progress 98 melalui
pesan singkatnya kepada Voa-islam.com [abdullah/voa-islam.com]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar